Bapandung, Stand Up Comedy Tradisional Asli Kalimantan Selatan?

Apakah seni tradisi Bapandung merupakan representasi Stand Up Comedy zaman old a la Kalimantan Selatan?

Bapandung, Seni Teater Monolog Banjar

Mengulik Seni Tradisi Kalimantan Selatan, Sembari Mencari Inspirasi Buat Liburan

Dikenal sebagai teater monolog tradisi Kalimantan Selatan (Kalsel), Bapandung merupakan salah satu kesenian tradisi tutur yang hampir punah. Dikatakan hampir punah, karena saat ini hanya sedikit saja pemandungan (sebutan untuk aktor/aktris bapandung) yang tercatat aktif. Salah satu tokoh Bapandung yang dikenal di Kalimantan Selatan saat ini adalah Bapak Abdussukur MH, sang ‘maestro’ Bapandung.

Konon, kesenian Bapandung muncul dari kebiasaan masyarakat Kalimantan yang gemar bercerita dan berkisah dalam bahasa Banjar. Hal ini tentunya tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang ada di Indonesia pada masa lalu. Umumnya, para orang tua (kita) dulu suka bercerita dan terkadang sampai larut malam. Tidak sibuk dengan gawai (gadget) seperti zaman now. Bahkan, orang tua zaman old pun ikut menikmati kegiatan bercerita atau mendongeng ini. Jadi tidak hanya anak-anak saja.

Dan tukang kisah adalah sebutan bagi mereka yang melakukan kegiatan bercerita atau bakisah dalam bahasa Banjar. Menariknya, kisah yang disampaikan bisa ditukat dengan upah atau hadiah bagi sang tukang kisah, baik itu nerupa gula, beras, ataupun kebutuhan sehari-hari lainnya. Bakisah bahasa Banjar pun akhirnya menjadi salah satu tradisi tutur di masyarakat Kalimantan Selatan.

Berawal dari tradisi bakisah, akhirnya kemudian muncul beragam kesenian teater yang sebenarnya adalah pengembangan materi dan tema-tema kisah. Dan Bapandung adalah salah satu seni yang berkembang dan populer dari tradisi bakisah ini.

Bentuk Bapandung, tak jauh beda dengan monolog teater modern yang berasal dari “Barat”. Bedanya, Bapandung menggunakan bahasa daerah Banjar, dan pamandungan tampil tunggal diatas panggung.

Secara harfiah, kata Bapandung belum ada serapannya dalam kamus Bahasa Banjar modern. Menurut Bapak Abdussukur MH, serapan “Bapandung” sejatinya dari bahasa Banjar Arkais. Kata “Bapandung” dalam pengertiannya merujuk pada arti “menirukan”. Sebab kesenian Bapandung butuh keterampilan menirukan tingkah laku manusia, bahkan hewan.

Dulu, tema ceritanya fabel, tentang perilaku satwa. Dan disaat mengisahkan hewan, sang pamandungan pun akan menirukan suara dan perilaku hewan yang diceritakan.

Zaman now?

Tema cerita bebas, sesuai situasi dan kondisi. Namun satu yang pasti, sang pemandungan tetap melakukan pesannya untuk “menirukan” dan selalu ada pesan yang disampaikan. Dan disinilah terletak kerumitan Bapandung. Karena cuma dimainkan oleh satu orang dengan aneka peran. Seniman Bapandung pun kerap menggunakan kostum berlapis-lapis. Satu kostum untuk satu tokoh.

Seringkali, sang pemandungan pun menggunakan humor-humor ringan untuk mengirim pesan yang ingin disampaikan. Jika sang pemandungan piawai, tawa pun akan membahana sebagai jawaban atas humor-humor tersebut. Dan sinilah awal mula pendapat kami di MOSLEMTRAVELER.COM bahwa Bapandung adalah stand up comedy tradisional asli Kalimantan Selatan. Terlebih jika merunut sejarah dari bagaimana munculnya stand up comedy itu sendiri.

Menurut Bapak Abdussukur MH, melalui salah seorang yang belajar Bapandung kepada beliau, Bapandung memang bukan stand up comedy. Karena memang berbeda. Jika begitu, pertanyaan selanjutnya, apakah Bakisah Bahasa Banjar adalah stand up comedy tradisional (asli) Kalimantan Selatan? Mungkin, itu kesimpulan sementara yang ada.

Jadi, bagi tertarik untuk menikmati seni tradisi tutur Kalimantan Selatan, akan ada Festival Teater Tradisional Bapandung pada tangga 14 -15 April 2018 di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Kayutangi, Banjarmasin.

Mari berjumpa di Balairung Sari, bersilaturahmi, dan siapa tahu bisa saling membuka pintu rezeki!

Bapandung, Stand Up Comedy Tradisional Asli Kalimantan Selatan?
Tanggal publikasi
: Maret 6, 2018
Modifikasi terakhir
: Maret 26, 2018