Lok Laga, Jembatan antara Wisata, Tradisi dan Legenda

Lok Laga, awal mula tradisi Bausung Pangantin Baarak Naga di Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST).

Wisata Air Lok Laga, Haruyan, Hulu Sungai Tengah

Lok Laga, Surga Air Tersembunyi di Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Terletak di kampung Mu’ui, Desa Sei Harang, Kecamatan Haruyan dan berjarak kurang lebih 21 km dari Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Lok Laga adalah nama sebuah obyek wisata air terjun yang sekelilingnya merupakan daerah hutan.

Sungai Lok Laga Ria nya banyak memiliki arus yang sangat jeram. Dalam kawasan obyek wisata Lok laga melintas aliran sungai dengan air yang jernih dan terdapat riam-riam kecil sehingga menjadikan obyek wisata Lok laga menjadi tempat pemandian alam.

Sebagai sarana wisata keluarga, anak-anak pun dapat belajar berenang pada tempat-tempat yang dangkal atau pada arus yang tidak terlalu deras di Lok Laga. Tak heran jika banyak orang yang menyebutnya sebagai surga air yang tersembunyi di Kalimantan.

Tradisi Bausung Pangantin Baarak Naga

Berbicara tentang Lok Laga, tentunya tak bisa lepas dengan salah satu tradisi yang sudah ada secara turun temurun di masyarakat Barabai, yaitu Bausung Pangantin Baarak Naga. Dalam bahasa Banjar, “bausung” memiliki arti mengusung, sementara “ba’arak” atau “baarak” memiliki arti mengarak atau membawa berkeliling seperti arak-arakan.

Baarak Naga sendiri adalah dimana sepasang ornamen naga diletakkan di samping kiri dan kanan untuk menggapit pengantin saat prosesi ba-arak. Kedua naga itu pun memiliki nama Salera dan Wisakutara.

Dulu, ornamen naga ini bukan dijadikan arak-arakan, tapi hanya untuk menggapit pengantin di kiri dan kanan saat berada di atas pelaminan atau panggung yang sering disebut Balai. Seiring perkembangan zaman, tradisi itu ikut mengalami perkembangan pula yaitu dengan membawanya dalam arak-arakan.

Pengantin pun duduk di atas badan naga atau pelaminan kecil untuk diarak atau dibawa berkeliling dengan mengunakan kendaraan yang dihias dengan ornamen naga. Pasangan pengantin ini, didampingi dua orang pengawal dengan pakaian layaknya pengawal kerajaan. Untuk memeriahkan suasana, arak-arakan diiringi musik-musik yang menggunakan alat musik khas Banjar seperti gong, sarunai, gemelan dan sebagainya.

Legenda Lok Laga

Dalam bahasa Banjar, Lok memiliki arti teluknya sungai dan Laga yang memiliki arti Naga. Konon, adanya tradisi Bausung Pangantin Baarak Naga pun dimulai dengan ada sebuah cerita dimana ada seokor Naga bergelar Rimpang tinggal di sungai yang dalam yang dinamai Lok Laga.

Menurut hikayat yang ada pada salah satu lagu Banjar berjudul Legenda Lok Laga, awal cerita dimulai dari adanya sebuah kampung di padalaman dimana ada seorang Pangulu adat yang sedang melaksanakan pernikahan putri tunggal kesayangannya. Acara pernikahan tersebut dilaksanakan dengan melakukan arak-arakan pengantin selama tujuh hari tujuh malam.

Undangan pun disebar. Para kepala suku dan kepala balai semuanya berdatangan untuk hadir dalam pesta pernikahan tersebut. Ada yang datang dengan menggunakan kuda, ada yang menggunakan Lanting (rakit bambu, red), ada pula yang datang dengan berjalan kaki saja. Mereka yang hadir pun berasal dari kawasan Baruh (hutan rawa, red.), dari seberang lautan, dari gunung dan adapula yang berasal dari perbukitan.

Para undangan yang hadir di acara pernikahan tersebut disuguhi dengan berbagai macam masakan seperti nasi, Lamang dan nasi ketan. Acara tersebut diiringi dan dihibur dengan musik Kurung-Kurung.

Setelah sang pangantin pria datang, kedua mempelai pun duduk berdampingan. Mereka duduk bersandarkan bantal dan guci bergambar kembang. Kepala sang penganten pria memakai Laung (topi khas daerah suku Banjar) dengan sebilah Mandau yang ada di pinggang.

Sementara itu, sang pengantin wanita memakai Galung yang berhiaskan Mayang dari pohon pinang. Mereka pun duduk bersanding di sebuah hiasan berbentuk naga. Sang mempelai mulai mengarungi sungai yang ada di Baruh di sekitar rumah pengantin. Ketika mereka sampai di liang (bagian sungai yang dalam, red) yang terdapat di teluk, hiasan berbentuk naga tadi bergoyang.

Anehnya, ekor sang naga bergerak-gerak dan mulutnya mulai menganga. Lidah naga menjulur dari mulut yang terbuka dan kedua mata membesar seperti orang yang sedang marah. Melihat kejadian itu, cepat-cepat lah sang pawang mencabut parang, dan kemudian mengayunkan tebasan di bagian kepala sang naga. Naga itupun bercucuran mengeluarkan darah karena kepalanya terluka.

Seteah kejadian itu, masyarakat pun memberikan gelar Naga Rimpang pada (hiasan/ornamen kepala) naga tersebut. Tempat itu pun kemudian dikenal dengan nama Lok Laga.

Lok Laga, Jembatan antara Wisata, Tradisi dan Legenda
Tanggal publikasi
: Februari 21, 2018
Modifikasi terakhir
: Maret 26, 2018