Mencari Mimpi, Sambil Rekreasi, a la Sang Calon Santri

Jadi santri itu keren. Namun, sebagai orang tua, terkadang kita lupa bahwa tidak semua anak mau dan bisa jadi santri.

Liburan di Lok Laga Haruyan, Hulu Sungai Tengah.

Assalamu’alaikum Negeri Satu Menara.

Kami memanggilnya Nanda. Dia adalah seorang anak laki-laki yang tampan, meski terkadang (masih) suka pecicilan. Alhamdulillah, kami dipercaya untuk menjadi “wali” dalam urusan pendidikannya.

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, ibunda Nanda meninggal dunia. Oleh sang ayah, Nanda pun dimasukkan ke salah satu pondok pesantren di Kota Seribu Sungai ini. Awalnya, semua berjalan dengan baik. Namun sayang, belum genap satu semester berjalan, Nanda pun memutuskan keluar dari pondok pesantren tersebut. Akibatnya, Nanda pun absen dari aktivitas bernama sekolah. Semenjak itu pula, Nanda “ikut” dengan kami yang saat itu tinggal di Barabai, Hulu Sungai Tengah.

Konon, kata para orang bijak, lingkungan sekitar sangat berperan dan berpengaruh dalam pendidikan anak. Dan (mungkin) itu yang terjadi pada Nanda. Lingkungan (mungkin) telah membuat Nanda untuk tidak berani bermimpi. Lingkungan pula yang (mungkin) telah membuat Nanda kurang percaya diri. Menurut kami, ini adalah salah satu sebab yang membuat Nanda keluar dari pondok pesantren tempatnya menuntut ilmu. Ya, jadi santri itu keren. Namun, tidak semua anak mau nyantri dan bisa jadi santri. Pendapat subyektif memang. Tapi, pengalaman adalah (salah satu) guru yang terbaik. Betul?

Menjadi wali bagi Nanda, meski hanya di sisi pendidikan saja, bagi kami bukanlah masalah sepele. Kenapa? Ya karena menyangkut masa depan sang anak itu sendiri. Belum lagi kalau mau memperpanjang masalah dengan menarik garis ke arah horisontal (orang tua) dan vertikal (Allah SWT.). Urusan yang kelihatan sederhana, namun sebenarnya ribet dalam prakteknya.

Mempersiapkan Nanda yang saat itu “trauma” sekolah dan mondok di pesantren, bukan segampang membalik telapak tangan. Mengurangi kebiasaan bermain dan menggantikannya dengan aktivitas belajar, itu tantangan. Terlebih kami tidak memilki latar belakang dunia pendidikan. Alhasil, pernah ada masa dimana kami membiarkan Nanda melakukan apa saja yang ingin dilakukannya. Ini adalah cara kami untuk melakukan observasi tentang “dunia” yang dimilikinya.

Minggu Pagi di Lapangan Dwiwarna, Barabai, Hulu Sungai Tengah.
Minggu pagi, santai sejenak di Lapangan Dwiwarna, Barabai, Hulu Sungai Tengah.

Selama masa observasi, sesekali kami mengajak Nanda ngobrol santai tentang keinginan dan harapan yang dimilikinya. Memang terlihat agak berat topiknya. Terlebih untuk anak seusia Nanda saat itu. Faktor bahasa sebagai alat komunikasi memegang kuncinya. Tak lupa, sebagai suplemen, akhir minggu pun kami luangkan untuk mengajak Nanda ke beberapa destinasi wisata di Hulu Sungai Tengah. Ketika berwisata, kami pun selalu mengabadikan aktivitasnya dalam bentuk foto dan video.

Rekreasi di Pagat Batu Benawa, Hulu Sungai Tengah.
Mencari pesan moral yang tersembunyi di Pagat Batu Benawa, Hulu Sungai Tengah.

Berbekal dokumentasi (foto & video) yang ada, kami pun membuat beragam video klip. Berbagai nasyid Gontor terpilih menjadi pengisi suara yang menjadi latar belakang video klip yang kami buat. Kami pun memilih nasyid-nasyid Gontor yang mengajarkan tentang belajar, masa depan dan bagaimana meraih mimpi. Tema klasik bagi orang kebanyakan, tapi penting dan sering terlupakan untuk diajarkan.

Rekreasi di Lok Laga Haruyan, Hulu Sungai Tengah.
Belajar dari Legenda Lok Laga, Haruyan, Hulu Sungai Tengah.

Saat itu, harapan kami sederhana. Pola pikir Nanda bisa lebih (sedikit) terbuka. Plus, kami ingin “memberi tahu” Nanda bahwa ada berbagai macam pondok pesantren. Tiap pesantren pun memiliki karateristik yang berbeda. Kami pun ingin “memberi tahu” bahwa selalu ada usaha dibalik hasil yang didapatkan. Kalau mau dapat ilmu, ya harus belajar. Bagi kami saat itu, ini adalah masalah utama yang harus diselesaikan mengingat Nanda sedang dalam kondisi “trauma” sekolah dan mondok di pesantren.

Tak terasa, waktu pun berlalu begitu saja. Dan setelah melalui berbagai cara, Nanda pun menyatakan keinginannya untuk mondok di Gontor. Ya, bagi Nanda, saat itu, bisa menuntut ilmu di pondok pesantren modern Gontor adalah mimpi terdekat yang harus diraihnya.

Alhamdulillah.. dan, assalamu’alaikum Negeri Satu Menara..

Mencari Mimpi, Sambil Rekreasi, a la Sang Calon Santri
Tanggal publikasi
: Maret 13, 2018
Modifikasi terakhir
: Maret 29, 2018