Merajut Mimpi a la (Calon) Wali Santri

Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. – Soekarno.

Tanda Every Expert Started form A Beginner di Darul Hijrah

Catatan #BapakRumahTangga ketika merajut mimpi buat sang (calon) santri.

Setelah melalui proses mencari mimpi (sambil rekreasi), Nanda akhirnya memberitahu kami jika dirinya ingin mondok di Negeri Satu Menara, Gontor. Alhamdulillah, satu mimpi sudah tercari.

Di sisi lain, keinginan Nanda untuk mondok di Gontor menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Kenapa singkat? Ya karena waktu pendaftaran siswa baru sudah dekat. Belum lagi urusan lokasi. Gontor ada di Jawa, sementara kami di Kalimantan.

Solusi?

Mencari informasi adalah hal pertama yang kami lakukan. Dan mengingat lokasi kami ada di Barabai, Hulu Sungai Tengah, maka internet pun menjadi senjata andalah dalam proses pencarian informasi ini. Sebagai tambahan, komunikasi dengan beberapa rekan/teman dan kerabat yang anaknya mondok di Gontor pun tak lupa kami lakukan. Menurut kami, hal ini perlu dilakukan untuk mendapatkan beberapa informasi yang lebih mendetail dan tidak tersedia di media online.

Berbekal hasil dari pencarian informasi, kami pun mengidentifikasi beberapa hal yang perlu dilakukan. Salah satunya adalah mempersiapkan kemampuan Nanda sendiri. Baik itu dari sisi akademis, ataupun keilmuan dari sisi agama. Menurut kami, dua hal ini penting dilakukan karena Nanda sudah cukup lama absen dari aktivitas sekolah. Kadar keilmuan agama yang dibutuhkan untuk mengikuti tes masuk ke Gontor pun masih jauh dari cukup.

Meramu semua hal yang dibutuhkan sebagai bekal ikut tes masuk ke Gontor ini pun akhirnya menjadi tantangan tersendiri. Berbekal informasi yang terkumpulkan, kami pun membuat daftar apa saja yang dibutuhkan dan ditingkatkan sebagai bekal buat Nanda. Alhamdulilah, ada suami dari rekan kerja istri yang bisa membantu dan menjadi mentor Nanda. Setiap sore, lima hari dalam sepekan (jika tidak salah ingat), Nanda pun harus menjalani proses upgrade ilmu yang dimilikinya.

Sembari upgrade ilmu, kami pun mempersiapkan hal lain yang dibutuhkan Nanda agar siap menjadi santri. Ritme hidup a la santri pun kami perkenalkan kepada Nanda dalam kesehariannya. Mulai dari bangun tidur, sampai tidur lagi. Penting tidak penting. Namun tetap dibutuhkan agar Nanda tidak “kaget” dengan kehidupan yang akan dijalaninya nanti.

Sisi mental atau psikologis pun tak lupa menjadi perhatian kami. Hidup di pondok itu jelas berbeda dengan hidup di rumah dan dekat orang-orang yang sayang kepada dirinya. Hidup “jauh” dari rumah, tentunya memiliki “rasa” yang berbeda jika dibandingkan dengan tinggal di rumah sendiri. Beda rumah, juga beda aturan. Itu adalah prinsip sederhana yang coba kami tanamkan. Bagi kami, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Setuju?

Proses pembelajaran Nanda berlanjut sampai pada akhirnya kami harus pindah ke Kota Seribu Sungai. Di Banjarmasin, kami pun menyiapkan rencana alternatif jika Nanda tidak lolos seleksi masuk ke Gontor. Bagi kami, hal ini perlu dilakukan mengingat Gontor adalah salah satu tempat idaman bagi para calon santri.

Proses pencarian informasi pun berulang, baik itu yang berbasis sekolah umum maupun pondok pesantren. Beberapa sekolah pun kami datangi. Beberapa pondok pesantren yang menurut kami “cocok” pun kami kunjungi. Tidak perduli dimana lokasinya. Baik itu Banjarmasin, Banjarbaru ataupun Banjar.

Melelahkan?

Tentu. Itulah harga dari proses “mencari” pendidikan. Tidak ada yang instan. Semuanya perlu persiapan. Perlu proses. Sayangnya banyak yang “lupa” dan mengabaikan nilai penting dari sebuah proses.

Nah asyiknya, di proses inilah kami bisa belajar lebih banyak lagi. Kami belajar tentang berbagai macam pondok pesantren. Baik itu yang tradisional, ataupun yang modern. Apa yang kami ketahui selama ini pun akhirnya hanya terasa seperti butran debu di padang pasir sahaja.

Di sisi lain, kami pun belajar bahwa tiap-tiap pondok memiliki karateristik dan keunikannya sendiri. Kalau urusan kelebihan dan kekurangan masing-masing pondok, itu sifatnya relatif. Bagi kami, keunikan dan karateristik inilah yang penting untuk menyusun rencana cadangan bagi pendidikan Nanda.

Selanjutnya : Melukis Mimpi Sang Calon Santri

Merajut Mimpi a la (Calon) Wali Santri
Tanggal publikasi
: Maret 14, 2018
Modifikasi terakhir
: April 11, 2018