Belajar pada Naga Lok Lua, Lok Si Naga dari Sungai Amandit, Kandangan

Belajar kearifan lokal dan mengambil pesan moral dari Legenda Naga Lok Lua di Sungai Amandit, Kandangan, Hulu Sungai Selatan.

Tari Legenda Naga Lok Lua, Posko La Bastari Kandangan

Menggali Kearifan Lokal dan Pesan Moral dari Legenda Naga Lok Lua di Kandangan.

Legenda Naga Lok Lua, Lok Si Naga dari Kandangan

Alkisah, pada jaman dahulu berdiamlah Ning Kurungan dengan anaknya di kampung Lok Lua. Sebagai keluarga nelayan, anaknya tinggal di rumah untuk menjaga rumah bila mereka pergi bekerja.

Pada suatu hari suami-isti nelayan itu memasuki alat penangkap ikan mereka yang berupa tangguk besar. Sialnya, seekor pun tidak ada yang masuk. Meskipun demikian mereka tidak putus asa. Tangguk tetap dimasukkan dan diangkat berulang-ulang tanpa mengenal lelah.

Akhirnya, ketekunan mereka berhasil juga. Pada waktu mereka mengangkat tangguk mereka untuk kesekian kalinya, ternyata di dalamnya terdapat sebutir telur yang sangat besar. Karena ngeri benda ajaib itu, telur itu segera mereka masukkan kembali ke dalam air. Anehnya, setiap kali mereka mengangkat tangguknya, setiap kali ada pula telur itu dan setiap kali segera mereka masukkan kembali ke dalam air. Keadaan ini berulang terus, walaupun telah mereka pindahkan tangguk mereka ke tempat lain. Rupanya telur itu berkeras hati untuk tetap bersama mereka. Akhirnya, karena putus asa telur itu pun dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, anak kesayangan mereka sedang tidur pulas. Karena tidak mendapatkan ikan, maka telur itu pun direbusnya. Setelah matang, telur itu mereka makan sebagai lauk teman nasi.

Begitu perut mereka kenyang, timbullah suatu keajaiban. Kedua suami istri itu perlahan-lahan berganti rupa menjadi dua ekor naga yang besar. Keajaiban ini tidak menimpa putra mereka karena ia belum sempat memakan telur itu.

Setelah terjaga dari tidurnya, anak itu pun menjadi ketakutan sewaktu melihat keadaan orang tuanya. Ia pun menangis karena sedih. Melihat itu, kedua naga itu segera menjilati pipi putra mereka yang sangat mereka kasihi itu. Setelah anaknya tenang, ayahnya menasehati, agar tidak mekan telur di atas dulang. Telur itu adalah telur naga putih yang hidup di sungai tempat mereka sering mencari ikan dan siapa saja yang memakan telur itu akan menjadi naga seperti mereka. Setelah meninggalkan pesan itu, kedua naga itu pun terjun ke dalam sungai untuk bertempur dengan naga putih yang telah mengubah wujud mereka.

Dua pesan lainnya mereka berikan juga pada putranya. Apabila timbul darah mereh pada sungai, itu berarti mereka kalah. Namun, bila timbul darah putih, itu berarti naga putihlah yang kalah. Tanda hasil pergulatan itu akan terlihat apabila hujan turun rintik-rintik pada hari panas dan timbul pelangi di antara langit dan bumi.

Setelah orang tuanya masuk ke dalam sungai, anak itu duduk termenung. Ia terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan hidup seperti itu. Setiap hari ia memandangi air sungai. Berharap agar kedua orang tuanya muncul lagi. Hingga pada suatu hari hujan turun rintik-rintik, di langit ada pelangi berwarna-warni, pada saat itulah air sungai menimbulkan warna putih seperti susu. Anak itu yakin sekarang kalau kedua orang tuanya telah memenangkan pertempuran dengan si naga putih.

Namun, ayah dan ibunya tidak pernah kembali ke rumah lagi. Anak itu menunggu di tepi sungai dan terus menunggu hingga akhir hayatnya. Ia memang tidak dapat hidup sendiri tanpa orang tuanya.

Alkisah, sejak itu penduduk desa Lok Lua menjadi aman dari gangguan naga merah. Konon, naga putih itu pun menetap di sungai Lok Lua, dimana dulunya adalah tempat tinggal naga merah.

Sungai tersebut pun sekarang dikenal dengan Lok Lua yang memiliki arti teluk yang ada pohon Luwa, atau luk si Naga yang berarti Teluk Naga. Konon, pinggan yang menjadi tempat bekas makan telus dan sisik naga yang diberikan oleh Ning Kurungankepada istrinya sampai sekarang masih ada yang menyimpan atau mewarisinya.

Kearifan Lokal dan Pesan Moral

Naga Lok Lua ada salah satu cerita rakyat yang ada di Kalimantan Selatan khususnya di daerah Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS). Kampung Luk Sinaga sendiri, yang sekarang bernama Lok Lua, terletak di tepian Sungai Amandit, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Seperti layaknya daerah lain di Nusantara, setiap cerita rakyat juga berfungsi untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik) yang bersifat menghibur. Sebuah bentuk kearifan lokal melelaui tradisi tutur dari generasi dulu untuk generasi selanjutnya.

Secara umum, legenda Naga Luk Lua memberikan pesan moral agar kita selalu berhati-hati dalam mengambil suatu keputusan. Sebuah keputusan yang diambil dengan tidak bijak akan membawa akibat yang fatal, baik itu bagi sang pengambil keputusan maupun bagi orang lain.

Legenda Naga Lok Lua juga mengajarkan kepada kita tentang hubungan antara orang tua dan anak. Sebagai orang tua, mencari nafkah adalah tangggung jawab yang wajib dilakukan dalam kondisi apapun itu.

Tak jarang, karena kondisi, keputusan yang diambil orang tua merupakan keputusan yang tidak tepat. Jika ini terjadi, sebagai orang tua pun kita harus menyampaikan informasi ini kepada sang anak agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

Belajar pada Naga Lok Lua, Lok Si Naga dari Sungai Amandit, Kandangan
Tanggal publikasi
: Februari 19, 2018
Modifikasi terakhir
: Maret 26, 2018