Nganggur Itu Anugerah, Pelajaran Berharga dari Yogyakarta

Belajar ilmu kanuragan istimewa, dari para guru dan begawan yang istimewa, di kota yang istimewa pula.

Becak Transportasi Istimewa Jogjakarta

Ilmu Nganggur Istimewa dari Kota Sejuta Cinta, Jogja.

Siapa saja yang datang atau tinggal di Yogyakarta, pasti akan memiliki kenangan tersendiri. Dan bagi kami, salah satunya adalah pelajaran berharga tentang rangkaian kata-kata indah “Nganggur Itu Anugerah“.

Ya, di Kota Gudeg inilah kami belajar bahwa nganggur tidak selamanya bermakna negatif. Kenapa? Ya karena Nganggur itu Anugerah!

Itulah pelajaran berharga yang kami peroleh ketika berguru kepada para “pengangguran” van Jogja.

Ya, betul. Jumlah pengangguran di Indonesia meningkat. Itu bukan berita baru. Lulus kuliah, susah cari kerjaan, itu juga cerita lama. Teman, relasi, atau (calon) mertua bertanya “Kerja apa? Dimana?”, dan malu menjawab kalo masih nganggur, banyak yang mengalaminya pula. Dan semua itu adalah bagian dari kisah (klasik) yang ada dalam keseharian bagi (sebagian) orang yang mengalaminya.

Nganggur, sering kali identik dengan anggapan atau persepsi negatif. Tidak sedikit pula yang menganggap “nganggur” itu identik dengan tidak produktif. Efeknya, orang yang nganggur seringkali minder atau malu dengan kondisi yang dimilikinya. Padahal, orang yang ngganggur itu sendiri terkadang sudah pusing dengan kondisi yang dimilikinya. Namun uniknya, bagi mereka yang terlepas dari “jebakan” nganggur, masa-masa “pengangguran” adalah masa-masa yang indah untuk dikenang.

Berlatar belakang dari kondisi di atas itulah kemudian muncul istilah “Nganggur Itu Anugerah”. Secara komunitas, “Nganggur itu Anugerah” sendiri merupakan kegiatan kumpul besama (para pengangguran), sembari berbagi ilmu, a la komunitas Gelatik Selam (Gelar Tiker Selasa Malam). Acara kumpul-kumpul ini pun sudah dilaksanakan sekian abad yang silam pada tanggal 30 Juli – 1 Agustus 2010. Alhasil, “Nganggur itu Anugerah” pun menjadi tagline dan trend tersendiri saat itu.

Secara horisontal, “Nganggur itu Anugerah” sebenarnya mengajak kita semua untuk tidak terpatok dan kekeuh pada satu sisi pandang sahaja. Nganggur yang selama ini kita kenal dengan persepsi kurang begitu bagus, sebenarnya juga bisa memiliki makna positif jika kita melihatnya dari sisi lain. Seperti layaknya sebuah mata uang, selalu ada dua sisi, angka dan gambar. Dan meski bebeda, toh mata uang itu adalah satu kesatuan yang memiliki nilai yang sama.

“Nganggur itu Anugerah” sebenarnya mengajak kita semua untuk melihat dari sisi proses. Hasil yang kita dapatkan hari ini, bisa jadi adalah buah dari proses yang kita lakukan bertahun-tahun kemarin. Pun, jangan melihat dari sisi materi atau nominalnya saja. Proses yang berbeda pun akan memberikan hasil yang berbeda. Tidak ada yang instan. Selalu ada perjuangan. Tidak ada resep yang berlaku secara umum bagi sebuah kesuksesan. Dan meski bersifat relatif, uniknya, setiap tangga kesuksesan setiap orang selalu memilik cerita legendanya sendiri. Ada yang dulunya cuman naik sepeda onthel, dan kemudian setelah selesai bekerja kantoran harus mengayuh puluhan kilometer tiap hari hanya untuk bisa belajar bersama. Ada yang memang tidak tahu, tidak memiliki apa-apa, dan hampir pasrah ketika harus memilih apakah uang yang ada dipake beli bensin atau makanan buat istrinya. Dan masih banyak cerita legenda yang lainnya.

Secara vertikal, saat itu, “Nganggur itu Anugerah” juga bukan hanya sekedar kalimat atau slogan sahaja. “Nganggur itu Anugerah” juga berarti proses yang mengajak kita semua agar bisa memaknai bahwa sekecil apapun nikmat yang kita rasakan, itu harus disyukuri. Jika kita tidak bisa mensyukuri yang kecil, bagaimana bisa dikasih tanggung jawab untuk menerima yang besar?

Selain itu, “Nganggur itu Anugerah” juga proses dimana kita harus bisa berbagi dalam berbagai kesempatan. Berbagi ilmu, bagi yang sudah tahu (lebih dulu). Berbagi rejeki, bagi yang dikasih lebih. Dan jangan salah, nganggur itu juga berbagi kesempatan untuk berkarya bagi mereka yang belum bisa berkarya.

*tribute to Sang Legenda, Gus Wawan a.k.a Pogung177.

Nganggur Itu Anugerah, Pelajaran Berharga dari Yogyakarta
Tanggal publikasi
: Februari 4, 2018
Modifikasi terakhir
: Maret 26, 2018