Sparkling Ramadan in Ampel Denta Surabaya, East Java

Islam, Ramadhan dan Tradisi di Surabaya

Ramadhan selalu membawa arti tersendiri. Dalam tataran tradisi masyarakat pun, Ramadhan selalu diiringi dengan berbagai macam tradisi.

Berbicara tentang Islam dan Surabaya, tentulah tidak lepas dari sejarah Ampel Denta. Sejarah Surabaya pun mencatat, kawasan Ampel Denta dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Karena itu, aktivitas religi sebagian besar masyarakat di kawasan Ampel tidak lepas dari budaya Jawa.

Selain sebagai pusat penyebaran Islam di tanah Jawa, daerah Ampel juga sebagai pusat akulturasi budaya. Bentuk nyata dari akulturasi budaya ini bisa dilihat dari berjalannya beberapa tradisi dalam menyambut bulan Ramadhan. Sebut saja nyadran, megengan, dan maleman yang menjadi rutinitas yang tidak ketinggalan selama bulan Ramadhan.

Secara harfiah, kata nyadran atau sadranan berasal dari Bahasa Jawa yang artinya berziarah. Hakikat dari tradisi nyadran ini adalah agar Tuhan memberikan berkah kepada kita berupa jiwa dan raga yang bersih sehingga siap dalam menjalankan ibadah puasa.

Selain tradisi nyadran, masyarakat di kawasan Ampel juga menggelar tradisi megengan. Megengan berasal dari kata megeng yang berarti menahan, yang dimaknai sebagai menahan hawa nafsu saat berpuasa. Tradisi megengan disimbolisasi dengan membagikan kue apem kepada kerabat dan sanak saudara sebagai ungkapan permohonan maaf dan ampunan kepada Allah SWT. Kentalnya tradisi megengan di kalangan masyarakat Ampel terlihat dari banyaknya penjual kue apem di kawasan tersebut selama bulan Ramadhan.

Selain apem, di kawasan Ampel banyak juga ditemui jajanan pasar, lauk pauk dan penganan khas Timur Tengah seperti roti maryam, yang dapat dibeli dan digunakan sebagai salah satu menu untuk berbuka puasa.


Related Articles on Ramadhan di Kota Surabaya, Jawa Timur